Pengembangan Imajinasi dan Kreativitas Anak melalui Sastra Anak dan Puisi

Anak mengalami pertumbuhan pesat dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari fisik,
kognitif, hingga emosional. Oleh karena itu, memberikan pendidikan yang tepat bagi anak
sesuai dengan usianya sangat penting agar perkembangannya dapat tumbuh secara optimal.
Mulyaningsih (2015:15) menjelaskan bahwa sastra diyakini mampu dipergunakan sebagai
salah satu sarana untuk menanam, memupuk, me-ngembangkan, dan bahkan melestarikan
nilai-nilai yang diyakini baik dan berharga oleh keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Tidak sedikit orang tua yang mendongengkan sebuah kisah kepada anak mereka menjelang
tidur, baik itu fabel maupun legenda. Bentuk sastra yang disampaikan untuk konsumsi anak-
anak ini disebut sastra anak. Sastra anak merupakan karya imajinatif yang menggambarkan
dunia rekaan yang tidak sesuai dengan dunia nyata yang dapat mengundang daya imajinasi
anak.
Dari imajinasi-imajinasi yang tertanam pada anak dapat memunculkan ide-ide kreatif
sehingga anak perlu media untuk menyalurkan ide-ide tersebut. Adapun suatu jenis karya
sastra yang cocok dikenalkan kepada anak untuk perkembangan imajinasi dan kreativitas
adalah puisi. Suroso (2009: 2-3) menjelaskan bahwa puisi mengungkapkan pengalaman
imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan
sosialnya yang diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu, sehingga puisi itu mampu
membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengar-pendengarnya.
Oleh sebab itu, sastra begitu penting untuk pertumbuhan anak-anak. Kelas Sastra Anak dan
Puisi yang dilaksanakan oleh Mahasiswa KKN UNY di Dengok Lor, Kelurahan Pacarejo,
Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul bertujuan agar anak-anak tersebut lebih bisa
mengenal tentang sastra, serta mengembangkan imajinasi dan kreativitas-nya melalui sastra
anak dan puisi.
Kelas Sastra Anak dan Puisi sebagai upaya meningkatkan aspek imajinasi dan kreativitas
anak dilaksanakan sebanyak tujuh pertemuan yaitu pada tanggal 19 Februari 2024, 23
Februari 2024, 28 Februari 2024, 2 Maret 2024, 6 Maret 2024, 9 Maret 2024, dan 10 Maret
2024 di Balai Padukuhan Dengok Lor. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini terbagi menjadi
dua fokus materi pembelajaran, yakni Kelas Sastra Anak dan Kelas Puisi.
Dalam pelaksanaan Kelas Sastra Anak mahasiswa menyampaikan materi sastra anak, yakni
fabel dan cerita rakyat/legenda. Mahasiswa juga memutarkan beberapa film sastra anak,
berupa “Kancil dan Buaya”, “ Belalang dan Semut”, “Batu Menangis” dan “Asal-Usul Danau
Toba” agar anak-anak Padukuhan Dengok Lor lebih memahami sastra anak. Anak-anak
dengan cermat memperhatikan video tersebut. Kemudian, anak-anak diminta berdiskusi
terkait video tersebut mengenai alur, karakter, dan pesan moral. Tidak lupa, pada akhir sesi
mahasiswa memberikan kuis terkait materi untuk melihat pemahaman anak dalam kelas.
Dalam pelaksanaan Kelas Puisi, mahasiswa menyampaikan materi dasar puisi. Selanjutnya,
anak-anak diminta untuk belajar membacakan puisi di depan orang lain secara lantang dan
percaya diri. Adapun puisi yang diambil yaitu puisi anak berjudul Matahari, Kupu-Kupu, dan
Kesehatan. Anak-anak bebas memilih membaca dari ketiga puisi tersebut.Harapannya
pertemuan pada kelas dapat melatih keberanian dan kepercayadirian anak. Selain itu,
Mahasiswa juga mengajarkan tata cara menulis puisi dengan topik hal-hal yang ada di sekitar.
Kemudian, anak-anak mempraktikkan menulis puisi. Anak-anak dituntut untuk aktif
mengamati benda atau makhluk hidup di sekeliling. Anak-anak kemudian diminta
menuliskan ciri-ciri dari benda tersebut.
Indikator keberhasilan dari Kelas Sastra Anak dan Puisi adalah kegiatan berjalan dengan
lancar, anak-anak di Padukuhan Dengok Lor antusias dan mampu mengikuti Kelas Sastra
Anak dan Puisi hingga selesai. Antusias anak-anak dalam mempelajari sastra terlihat saat
anak-anak turut aktif dalam diskusi. Anak-anak juga berhasil mengetahui, memahami, serta
lebih mengenal sastra berdasarkan evaluasi dari mahasiswa. Evaluasi ini berupa pemberian
soal latihan pada akhir pertemuan materi yang dimaksudkan untuk mengukur sejauh mana
anak-anak mampu memahami materi.
Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin